Selamat datang di klinikherbaonline. Situs yang menyajikan informasi seputar herbal,konsultasi kesehatan dan dunia kesehatan secara lengkap dan berimbang

Ini Alasan Kenapa Alkohol Perlu Dilarang





Jauh sebelumya agama Islam telah melarang mengkonsumsi alkohol seberapapun jumlahnya. Sebagian besar masyarakatpun sebenarnya telah mengetahuinya. Namun, saat ini peredaran alkohol terbilang cukup bebas di masyarakat, padahal alkohol bisa memberikan dampak buruk bagi tubuh. Hal ini yang membuat peredaran alkohol sebaiknya dilarang.A

Pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1997 mengatur adanya tiga golongan minuman keras, yakni golongan A dengan kandungan alkohol 0-5 persen, B dengan alkohol 5-20 persen dan C dengan kandungan alkohol 20-55 persen. Hanya miras golongan A yang boleh beredar di masyarakat.


Namun Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 mencatat sebanyak 2,5 juta penduduk dunia meninggal akibat alkohol dan sekitar 9 persen dari kematian itu terjadi pada orang muda berusia 15-29 tahun.


Secara umum seseorang minum alkohol dengan berbagai alasan, misalnya menjaga hubungan baik dengan relasi, untuk menghangatkan badan saat musim dingin atau hujan, membuat rileks dan melupakan beban masalah yang dihadapinya.


"Buat sebagian anak muda, alkohol sebagai pelarian karena frustasi menghadapi masalah sehari-hari dan berharap bisa melupakan beban hidup sesaat, padahalsifatnya semu belaka," ujar Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB sebagai dosen dan Spesialis Penyakit Dalam dari FKUI, seperti dikutip dari
detikHealth.

Dr Ari menuturkan dampak buruk dari penggunaan alkohol akan mengenai berbagai organ di dalam tubuh, mulai dari otak, saluran pencernaan (mulut sampai usus besar), hati atau liver, pankreas, otot, tulang dan sistem reproduksi.


"Penggunaan alkohol yang berlebihan dalam waktu singkat akan menyebabkan terjadinya keracunan alkohol (intoksikasi alkohol) dan menyebabkan kematian," ujar Dr Ari.


Keracunan alkohol terjadi jika jumlah alkohol yang dikonsumsi berada diambang batas toleransi sehingga menyebabkan terjadinya gangguan baik fisik maupun mental seperti mabuk. Orang yang mabuk tidak sadar apa yang dilakukannya, disorientasi, bingung dan lupa.


Selain itu alkohol juga menyebabkan adiksi atau ketagihan sehingga penggunaannya semakin hari semakin banyak yang dikonsumsi, walaupun ia sudah toleransi tapi efek samping kronisnya tetap terjadi.


"Efek kronis dari pengguna alkohol biasanya mudah ditemukan kelainan di lambungnya. Alkohol akan menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan yang membantu erosi sampai tukak usus yang selanjutnya bisa berubah menjadi sel ganas (kanker)," ungkapnya.


Peminum alkohol juga akan mengalami peradangan kronis yang berlanjut jadi penciutan hati (sirosis) yang dapat menimbulkan komplikasi lanjutan sepertu pembengkakan perut dan perdarahan pada saluran cernanya.


"Informasi mengenai konsumsi alkohol dosis kecil bisa berdampak baik bagi kesehatan ternyata masih menjadi kontroversi, karena meski sedikit tetap membawa efek samping," ungkapnya.


Konsumsi alkohol juga tidak boleh dibarengi dengan obat tertentu yang memiliki efek samping mengantuk seperti antihistamin atau antialergi seperti kombinasi obat batuk, pilek. Hal ini karena efek penenang dari alkohol akan bertambah berat.


"Penggunaan alkohol lebih banyak dampak buruknya dibanding manfaatnya, sehingga upaya melarang penggunaan alkohol di masyarakat luas harus dilakukan melalui berbagai peraturan," ujar dr Ari.

Sumber : Detikhelth

Keajaiban Senyum Terhadap Penyakit Kardiovaskuler


Senyum merupakan sunnah bagi orang yang beragama islam karena senyum berlimpah akan manfaatnya, akan tetapi banyak orang yang meninggalkan bahkan sampai menyepelekannya. Manfaat senyum itu sendiri jika dilihat dari sisi kajian ajaran islam ialah sedekah, berarti senyum itu memiliki kedudukan yang cukup mulia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.“. HR. Tirmidzi
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari hasil penelitian tentang tersenyum :
1. Senyum yang ikhlas tanpa paksaan dapat menghindarkan diri dari penyakit kardiovaskuler, senyum sebanyak 20 kali dan setiap senyumnya itu berdurasi 20 detik dapat menghasilkan β endorphin oleh otak dimana fungsinya itu melebarkan pembuluh darah dan menghambat epinefrin. Seperti kita ketahui apabila epinefrin tinggi didalam tubuh maka akan menimbulkan penyempitan pembuluh darah dan juga merangsang gerak jantung lebih cepat sehingga dapat menyebabkan penyakit darah tinggi atau hipertensi yang dapat berdampak terhadap timbulnya penyakit stroke (karena pendarahan) serta penyakit jantung. Maka sebab itu apabila seseorang rajin tersenyum dapat menjauhkan dirinya dari penyakit tersebut.
2. Menimbulkan efek relaksasi, perasaan bahagia dan menurunkan tingkat stress didalam tubuh.
3. Mencegah timbulnya sembelit (susah buang air besar), dimana ketika pada pagi hari gerak peristaltik usus masih lambat sehingga ketika orang tersenyum pada pagi hari akan dapat merangsang gerak usus akibat dari kontraksi otot perut yang ditimbulkan oleh efek tersenyum tersebut. Yang dapat menyebabkan tekanan Intra abdominal meningkat.
4. Ketika seseorang yang sedang marah/stress dapat menyebabkan kehilangan banyak kalium akibat berkontraksinya banyak otot. Sehingga dapat menyebabkan orang yang sedang marah/stress tersebut akan terkena Hipokalemia (kadar kalium yang rendah dalam darah) dan dapat berakibat buruk terhadap sistim tubuh. Sedangkan seseorang yang tersenyum akan merileksasikan otot/kontraksi ototnya lebih sedikit sehingga dapat mereduksi pengeluaran kalium lebih banyak. Untuk fungsi kalium itu sendiri adalah meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kotraksi otot dan membantu tekanan darah.

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari 'Ubaidullah bin Al Mughirah dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz`i dia berkata; "Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. (HR. Tirmidzi)

PENDEKATAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL PADA PENDERITA STROKE





Saat ini, penderita stroke cenderung terus meningkat. Penyakit ini perlu diwaspadai karena terjadi secara mendadak. Karena sifatnya mendadak itulah maka sindroma ini diistilahkan dengan “STROKE” yang artinya kurang lebih “kejadian yang tiba-tiba”. Kalau kita tiba-tiba dipromosikan, naik pangkat, dapat hadiah uang ratusan juta, dan mengalami kejadian tiba-tiba lainnya yang positif, maka hal tersebut akan membuat kita mengalami rasa bahagia yang “ruaaaar biasa”. Tapi apa yang kita bayangkan bila kita tibatiba kehilangan sesuatu yang selama ini kita banggakan dan sangat menentukan perjalanan hidup kita. Tiba-tiba (secara mendadak) orang yang sangat kita cintai (istri, suami, anak, orang tua) meninggal dunia. Tiba-tiba kita kehilangan pekerjaan yang sangat menentukan mati dan hidupnya keluarga kita. Tiba-tiba seluruh harta kekayaan kita habis ludes terbakar si jago merah. Tiba-tiba kita menjadi lumpuh tak berdaya. Tiba-tiba kita mengalami stroke. Apa yang kita lakukan bila kita sendiri mengalaminya?……
DAMPAK PSIKOLOGIS / EMOSIONAL DAN SPIRITUAL
Stroke memang tidak selalu membuat mental penderita merosot. Meskipun demikian padaumumnya hampir semua orang yang terkena stroke akan mengalami perubahan mental dan dampak psikologis yang luar biasa. Kita dapat membayangkan bagaimana seseorang yang terkena stroke tiba-tiba mengalami “kelumpuhan” fungsi organ-organ tubuhnya yang sangat penting. Penderita stroke tibatiba mengalami kehilangan kontrol terhadap dirinya
sendiri, mengalami gangguan daya pikir, konsentrasi, penampilan menjadi sangat menurun dan mengalami kehilangan banyak hal yang biasanya bisa dilakukan sendiri. Semua hal tersebut pasti sangat mempengaruhi penderita stroke. Marah, sedih, menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berdaya, sering kali menurunkan semangat hidup penderita stroke sehingga muncul dampak emosional yang lebih berbahaya.
Kondisi seperti ini akan semakin buruk bila stroke dialami oleh mereka yang sangat mengagungkan kemampuan dan kehebatan dirinya serta jauh dari penghayatan akan religiusitas dan spiritualitas.
PENTINGNYA PENDEKATAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL
Mendekati penderita stroke dengan memahami aspek emosi dan spiritualitasnya menjadi sangat penting karena beberapa hal : Stroke bukanlah sekedar terjadinya kerusakan pada jaringan otak yang disebabkan berkurangnya aliran darah ke otak dengan berbagai sebab yang ditandai dengan kelumpuhan sensorik atau motorik tubuh sampaidengan terjadinya penurunan kesadaran, akan tetapi stroke sekaligus serangan terhadap harga diri, ketekunan dan kesabaran, daya tahan dalam menghadapi stressor, penyesuaian diri, dsb. Penderita stroke pada dasarnya “mendadak invalid” yaitu mendadak/tiba-tiba “kehilangan” banyak hal yang sangat penting dan dibanggakan. Hal ini akan menyebabkan seseorang teraduk-aduk emosinya, perasaan dan pikirannya. Ada kecenderungan yang sangat kuat bahwa hampir semua penderita stroke tidak bisa menerima “kenyataan”. Salah satunya yang hampir selalu muncul dalam pikiran dan perasaan penderita stroke adalah pertanyaan “mengapa harus saya yang mengalami?” hingga “mengapa Tuhan melakukan hal ini pada saya?” Pasien pasca stroke / penderita stroke biasanya menjadi rendah diri, menjadi mudah sedih, mudah marah, stres dan depresi maupun kehilangan minat terhadap segala sesuatu, oleh karena itu mereka sangat membutuhkan orang lain yang dengan ikhlas memberikan empati, memotivasi, kasih sayang dan perhatian.Spiritualitas menjadi sangat penting agar penderita stroke mampu menerima kenyataan, mampu mengambil hikmah, dapat mengisi setiap kesempatan dengan sesuatu yang bermakna, bersabar dan bertawakal, berpikir positif serta semakin mencintai AllahSWT.
PENDEKATAN EMOSIONAL
Pahami bahwa penderita stroke adalah pribadiyang memiliki sensitifitas emosi dan afeks yang berbedadengan pribadi yang sehat. Mereka cenderung menjadi sangat peka terhadap suatu peristiwa dan reaksi orang lain. Peristiwa biasa dan reaksi orang lain yang wajar saja bisa menimbulkan persepsi negatif dan melukai emosi/afeksi penderita stroke, apalagi peristiwa dan reaksi yang negatif. Setiap penderita stroke memiliki latar belakang kehidupan dan kepribadian yang berbeda-beda. Setiap penderita stroke memiliki “individual deferences” dan keunikannya masing-masing termasuk reaksi emosinya terhadap penyakit yang diderita dan masalah-masalah yang dihadapi. Akan lebih baik bila dalam membantu proses penyembuhan / pemulihan / peneguhan setiap
penderita stroke, memperhatikan keunikan masingmasing pribadi sehingga akan diperoleh model perlakuan dan pendekatan emosional yang tepat. Emphaty harus selalu melekat dan mewarnai siapapun (dokter, perawat, keluarga dll) yang akan berhubungan dengan penderita stroke. Emphaty menjadi sangat penting karena ia akan membantu proses komunikasi, pendampingan, motivasi dan pemulihan. Emphaty juga akan menghadirkan situasi merasa diterima dan diperhatikan dalam diri penderita stroke.
PENDEKATAN SPIRITUAL (PSIKOLOGI)
“Spiritual”, dalam perspektif SQ (Spiritual Quotient) dan SC (Spiritual Capital) oleh Danah Zohar dan Ian Marshall didefinisikan sebagai suatu cara kita menggunakan makna, nilai, tujuan dan motivasi dalam mengambil keputusan yang dibuat dan dalam
segala sesuatu yang kita pikir patut dilakukan. Spiritual adalah “kecerdasan hati nurani”.
Menurut Hermawan Kartajaya (dalam kata pengantar buku “Spiritual Capital” edisi
Indonesia, penerbit Mizan), spiritualitas menyangkut sesuatu yang universal yaitu values (nilai), meaning (makna), dan purpose (tujuan) dalam hidup manusia. SC (Spiritual Capital) menjawab keprihatinan tentang apa arti menjadi manusia
dan tentang apa makna serta tujuan puncak dari hidup manusia. SQ (Spiritual Quotient) berfungsi membantu menjawab pertanyaan “siapa saya”. Memperhatikan pengertian spiritual dalam perspektif psikologi tersebut maka penderita stroke akan menjadi terbantu untuk tetap tabah dan tetap memiliki semangat untuk sembuh serta menjalani kehidupan bila kita dapat membantu penderita stroke untuk : Menemukan makna / hikmah dan pesan Tuhan dibalik stroke yang dideritanya. Siapapun yang dapat menemukan hikmah dari setiap kejadian maka akan menjadi orang-orang yang “KUAT”.
Menemukan dan memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat dihayati dan mencerahkan.
Menemukan tujuan hidup yang lebih terarah sehingga dengan keterbatasan stroke yang dideritanya tetap dapat menjalani hidup dengan penuh makna dan tidak sia-sia. Memiliki motivasi hidup yang tepat sehingga dapat membantu penderita stroke untuk menjalani hidup dengan optimis dan tetap bergairah. Semakin memahami dirinya (siapa saya?) sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang dengan segala kondisinya (sakit/sehat) akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Spiritualitas keagamaan hanya akan muncul dari religiusitas yang sifatnya intrinsik (agama yang dihayati dengan penuh kesungguhan dan dari hati yang paling dalam) bukan dari religiusitas yang ekstrinsik (agama yang hanya sekedar kulit dan formalitas).
PENDEKATAN SPIRITUAL (AGAMA)
Spiritualitas dalam perspektif agama, disamping memiliki beberapa aspek seperti yang
dirumuskan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, spiritualitas agama lebih mengarah pada penghayatan dari agama yang diyakini, seberapa bagus kualitas rasa keagamaan yang dimiliki, seberapa dalam posisi Tuhan didalam hati dan pikiran, juga seberapa ikhlas dan ihsan seseorang dalam beribadah kepada-Nya. Spiritualitas keagamaan hanya akan muncul dari religiusitas yang sifatnya intrinsik (agama yang dihayati dengan penuh kesungguhan dan dari hati yang paling dalam) bukan dari religiusitas yang
ekstrinsik (agama yang hanya sekedar kulit dan formalitas). Bawa penderita stroke pada “nikmat dan bahagianya” beribadah dan berdekat-dekatan dengan Allah SWT, indah dan bahagianya dapat mengisi keterbatasan hidupnya dengan amal shaleh, cinta dan kasih sayang, serta masih diberi kesempatan untuk hidup dan mempersiapkan diri
menuju perjalanan khusnul khotimah. Ajak mereka untuk menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dengan apa yang ada dan yang masih tersisa.
Berat ringannya sebuah ujian bukan pada apa yang kita alami,
Tetapi pada bagaimana sikap kita menghadapinya....
Oleh HM. Jamaludin Ahmad