Selamat datang di klinikherbaonline. Situs yang menyajikan informasi seputar herbal,konsultasi kesehatan dan dunia kesehatan secara lengkap dan berimbang

GAMALIFE

GAMALIFE HPA anti kanker, anti agingGAMALIFE HPA terbuat dari ekstrak GAMAT EMAS 100%. Diproses secara ekstraksi dengan media air bukan alcohol. Ekstraksi dilakukan untuk membuang limbah dalam gamat karena gamat adalah pembersih laut. Kandungan Golden Sea Cucumber (gamat emas) berdasarkan hasil penelitian adalah protein, kolagen, mineral, mukopolisakarida, glucasaninoglycans (GAGs), antiseptic alamiah, chondroitin, omega 3, omega 6, omega 9, serta asam amino. Berikut ini adalah khasiat dari GAMALIFE: 1. Mempecepat penyembuhan luka dan antiradang. 2. Mempercepat regenerasi dan aktifitas sel 3. Mempercepat penyembuhan patah tulang 4. Memelihara kesehatan sendi dan tulang 5. Mencegah osteoporosis. 6. Mencerahkan, menghaluskan, dan mengencangkan kulit. 7. Memperlambat penuaan dini. 8. Meningkatkan system kekebalan tubuh. 9. Anti kanker dan anti tumor. 10. Mencegah inflamasi dan meredakan rasa sakit. 11. Mengurangi kadar gula dan kekentalan darah. 12. Mengurangi trigliserida dan kolesterol. 13. Anti virus, antmikroba, dan anti radioaktif. 14. Mengatasi stroke dan asma 15. Memperbaiki system pencernaan. 16. Mencegah penyakit kardiovaskular. 17. Meningkatkan daya ingat dan mencegah kepikunan. 18. Kaya akan arginin, penyusun sperma dan kolagen. 19. Mengatasi HIV/AIDS. 20. Mempermudah persalinan. GAMALIFE HPA 100% natural, berbentuk kaplet dan lebih cepat diserap tubuh. Untuk harga konsumen Rp. 120.000,- (belum termasuk ongkos kirim) Untuk member HPA, harga Rp. 100.000,- (belum termasuk ongkos kirim), Nilai Mata 50.000(PV) Untuk pemesanan dapat menghubungi kami,

Madu Sunnah

Madu Sunnah diambil dari Timur Tengah (padang pasir) amat baik untuk dijadikan sebagai makanan kesehatan karena kualitasnya yang tinggi dimana kadar air di bawah 20%. Madu ini diambil dari lebah yang menggunakan pohon kurma, tin dan zaitun.
Didalam Surah An Nahl : Ayat 68-69 :
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “buatlah sarang dibukit, dipohon-pohon kayu dan ditempat-tempay yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari ssetiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan untukmu. Dari perut lebah itu keluarlah minuman (MADU) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir”.
Madu Sunnah memiliki aroma khas dan mempunyai kekentalan yang tinggi kaya akan protein dan karbohidrat. Kaya akan vitamin, aneka mineral, aneka enzim, protein, hormon-hormon zat anti mikroba dan antibiotik.
ATURAN PAKAI
Dewasa : Minum secara teratur 1 sendok makan setiap pagi dan sore
Anak-anak : Minum secara teratur 1 sendok teh setiap pagi dan sore, tambahkan jus buah sesuai selera
KOMPOSISI
Madu Murni / Pure Honey ( 100& )
ISI
HARGA
Konsumen : Rp. 100.000,-
Distributor : Rp. 85.000,-
Dapatkan Diskon Produk Hingga 30% Dengan Mendaftar Keanggotaan  HPA-AWWIT, Hanya Rp 60.000

Waspadai Efek Imunisasi

Imunisasi memang penting untuk membangun pertahanan tubuh bayi. Tetapi, orangtua masa kini seharusnya lebih kritis terhadap efek samping imunisasi yang mungkin menimpa Si Kecil.
Pertahanan tubuh bayi dan balita belum sempurna. Itulah sebabnya pemberian imunisasi, baik wajib maupun lanjutan, dianggap penting bagi mereka untuk membangun pertahanan tubuh. Dengan im...unisasi, diharapkan anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya.
Di lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan efek samping. Demam tinggi pasca-imunisasi DPT, misalnya, kerap membuat orangtua was-was. Padahal, efek samping ini sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh tengah bekerja. Namun, kita pun tidak boleh menutup mata terhadap fakta adakalanya efek imunisasi ini bisa sangat berat, bahkan berujung kematian. Realita ini, menurut Departemen Kesehatan RI disebut “Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi”(KIPI). Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KN PP) KIPI, KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi.
Tidak Ada yang Bebas Efek Samping
Menurut Komite KIPI, sebenarnya tidak ada satu pun jenis vaksin imunisasi yang aman tanpa efek samping. Oleh karena itu, setelah seorang bayi diimunisasi, ia harus diobservasi terlebih dahulu setidaknya 15 menit, sampai dipastikan tidak terjadi adanya KIPI (reaksi cepat).
Selain itu, menurut Prof. DR. Dr. Sri Rejeki Hadinegoro SpA.(K), untuk menghindari adanya kerancuan antara penyakit akibat imunisasi dengan yang bukan, maka gejala klinis yang dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu. “Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat. Dilihat dari gejalanya pun, dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya,” terang Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.
Pada umumnya, semakin cepat KIPI terjadi, semakin cepat gejalanya. Pada keadaan tertentu lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari (pasca-vaksinasi rubella), bahkan 42 hari (pasca-vaksinasi campak dan polio). Reaksi juga bisa diakibatkan reaksi simpang (adverse events) terhadap obat atau vaksin, atau kejadian lain yang bukan akibat efek langsung vaksin, misalnya alergi. “Pengamatan juga ditujukan untuk efek samping yang timbul akibat kesalahan teknik pembuatan, pengadaan, distribusi serta penyimpanan vaksin. Kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi, atau semata-mata kejadian yang timbul kebetulan,” demikian kata Sri.
Penelitian Vaccine Safety Committee, Institute of Medicine (IOM), AS, melaporkan, sebagian besar KIPI terjadi karena faktor kebetulan. “Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan atau pragmatic errors),” tukas dokter yang berpraktek di RSUPN Cipto Mangunkusumo ini.
Stephanie Cave MD, ahli medis yang m...enulis “Yang Orangtua Harus Tahu tentang Vaksinasi Pada Anak” menyebutkan, peluang terjadinya efek samping vaksin pada bayi dan anak-anak adalah karena mereka dijadikan target imunisasi massal oleh pemerintah, pabrik vaksin, maupun dokter. Padahal, imunisasi massal yang memiliki sikap “satu ukuran untuk semua orang” ini sangat berbahaya. Karena, “Setiap anak adalah pribadi tersendiri, dengan bangun genetika, lingkungan sosial, riwayat kesehatan, keluarga dan pribadi yang unik, yang bisa berefek terhadap cara mereka bereaksi terhadap suatu vaksin,” demikian Cave.
Beberapa Kejadian Pasca-Imunisasi
Secara garis besar, tidak semua KIPI disebabkan oleh imunisasi. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa faktor KIPI yang bisa terjadi pasca-imunisasi:
1. Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusukan jarum suntik, baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan. Sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope atau pingsan.
2. Reaksi vaksin
Gejala KIPI yang disebabkan masuknya vaksin ke dalam tubuh umumnya sudah diprediksi terlebih dahulu karena umumnya “ringan”. Misal, demam pasca-imunisasi DPT yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. Meski demikian, bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh (misal, keracunan), yang mungkin menyebabkan masalah persarafan, kesulitan memusatkan perhatian, nasalah perilaku seperti autisme, hingga resiko kematian.
3. Faktor kebetulan
4. Penyebab tidak diketahui
Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab, maka untuk sementara dimasukkan ke kelompok “penyebab tidak diketahui” sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya, dengan kelengkapan informasi akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.
‘Imunisasi itu Aman’ Ilmu Pengetahuan atau Fiksi?
Keraguan tentang aman-tidaknya imunisasi bukan sesuatu yang mengada-ada. Saat ini sudah ada puluhan ribu kejadian buruk akibat imunisasi yang dilaporkan, dan puluhan ribu lainnya yang tidak dilaporkan. Pada anak-anak, imunisasi (dan antibiotik) bertanggung jawab untuk sebagian besar reaksi negatif dibanding obat-obat resep lainnya. Jadi realitanya, tidak ada obat yang aman untuk setiap anak. Dan, beberapa obat lebih berbahaya daripada beberapa obat lainnya.
Keamanan imunisasi seharusnya berlandaskan pada ilmu pengetahuan yang baik, bukan hipotesa, pendapat, keyakinan perorangan, atau pengamatan. Namun faktanya, hingga kini banyak yang tidak diketahui para ilmuwan tentang cara kerja imunisasi di dalam tubuh pada tingkat sel dan molekul. Tes yang memadai untuk imunisasi juga tidak ada. Yang juga kurang, adalah pengertian tentang efek jangka panjang dari imunisasi massal bagi bayi dan anak-anak. Yang diketahui adalah, sejak akhir tahun 1950-an, ketika imunisasi massal mulai diwajibkan di Amerika Serikat, telah terjadi peningkatan kasus kelainan sistem imun dan persarafan, termasuk kesulitan memusatkan perhatian, asma, autisme, diabetes anak-anak, sindroma keletihan menahun, kesulitan belajar, rematoid artritis, multipel sklerosis, dan masalah kesehatan yang menahun lainnya.
Di Amerika Serikat dan tempat-tempat lain di dunia, adanya peningkatan besar jumlah masalah medis yang terkait dengan imunisasi yang dilaporkan orangtua dan profesional kedokteran, telah mencetuskan suatu gerakan yang menuntut dilakukannya lebih banyak kajian yang lebih baik tentang potensi efek buruk jangka panjang atau menahun dari imunisasi. (BOD/What Your Doctor May Not Tell You About Children’s Vaccination)
Sumber: Tabloid Ibu Anak